Sejarah Komunitas

Komunitas Santa Maria tidak terbentuk begitu saja, namun direncanakan sungguh oleh Monseigneur Petrus Maria Vrancken, Pr - Vikaris Apostolik untuk Vikariat Batavia - yang sangat prihatin dengan kondisi kebodohan dan kemalasan generasi muda waktu itu. Walaupun Pemerintah Hindia Belanda telah berusaha membuat sekolah-sekolah, tetapi banyak yang tidak dapat bertahan karena langkanya tenaga pengajar yang cukup memadahi. Maka pada tahun 1848 Mgr.Petrus Maria Vrancken bermimpi dan membayangkan untuk mewujudnyatakan sebuah lembaga pendidikan yang cukup memadahi bagi generasi muda khususnya pribumi di tanah Jawa ( Hindia Belanda pada saat itu ). Teringatlah beliau akan para sahabatnya, yaitu para Suster Ursulin yang memang sudah berkecimpung di dunia Pendidikan di Sittard negeri Belanda.



Pada tahun 1853 Mgr. Petrus Maria Vrancken berhasil membeli sebuah rumah gedung besar berlantai 2 dan berhalaman luas di Noordwijk no. 29 ( yang kemudian menjadi Jl.Nusantara 29, dan sekarang Jl. Ir.H.Juanda 29 ) seharga 30.000 gulden. Monseigneur berpikir bahwa lahan ini sangat cocok dijadikan sebuah Biara sekaligus pusat pendidikan. Tempat ini sangat strategis karena letaknya berseberangan dengan Istana Gubernur Jendral yang merupakan pusat pemerintahan.



Pada tahun 1854 Monseignur berkesempatan kembali ke Eropah. Di sana beliau mencari dukungan kepada Mgr. Peredis, Uskup Roermond dan menyempatkan mengunjungi Biara Ursulin di Sittard, Belanda. Kepada pimpinan Biara Ursulin di Sittard itu, beliau menyampaikan obsesinya dan meminta tenaga sukarelawati dari Suster Ursulin untuk misinya, yaitu mendirikan pusat pendidikan di tanah Jawa. Ternyata permintaan Monseignur itu disambut dengan sangat antusias oleh para suster Ursulin Komunitas Sittard.



Setelah melalui perjuangan yang cukup berat, Mgr. Vrancken pun berhasil mendapatkan dukungan moral dari berbagai pihak. Akhirnya Komunitas Sittard memutuskan untuk mengirimkan 5 suster sukarelawan untuk pergi ke tanah Jawa memulai tugas mulia tsb. Kelima suster dari Sittard itu adalah : Suster Angela Kuviers, OSU, Suster Emmanuel Harris, OSU, Suster Jeanne Nieuwenhuyzen, OSU, Suster Andre van Gemert ( Novis ), OSU, dan Suster Maria Geraedts, OSU, Kelima suster itu ditemani oleh 2 suster dari Komunitas lain yaitu : Suster Ursula Meertens, OSU dari Komunitas Maeseyck ( kemudian ditunjuk sebagai pimpinan kelompok sukarelawan ini ), dan Suster Xaveria Verhuyght, OSU dari Komunitas Haught Croix, Belgia.



Tanggal 20 September 1856 ketujuh suster sukarelawan dengan ditemani 3 orang Imam Diosesan, yaitu: Pater Franssen, Pater Verhaag, dan Pater Ophoven dan diantar oleh Mgr. Vrancken menuju pelabuhan Rotterdam. Dengan menumpang kapal dagang "Herman" milik Hermanus van Gent dari Scheidam para sukarelawan dan missionaris ini mulai bertolak mengarungi samudera luas menuju tanah Hindia Belanda untuk memulai misinya bagi dunia pendidikan.



Pada tanggal 7 Februari 1856 mendaratlah kapal "Herman" yang membawa para missionaris ini di pelabuhan Sunda Kelapa, Batavia. Dengan diantar Mgr. Vrancken, Pater Franssen, Pater Van Der Grinten dan beberapa warga Katolik, rombongan langsung diajak menuju Gedung besar berlantai 2 dan berhalaman luas yang terletak di Noordwijk 29 yang memang telah dipersiapkan oleh Mgr. Vrancken sejak tahun 1853 untuk dijadikan Biara dan pusat pendidikan. Di sinilah para missionaris akan memulai karya pendidikannya. Namun sebelum mereka memulai karyanya, mereka dirundung kesedihan, karena salah satu suster mendadak meninggal dunia, yaitu : Suster Emmanuel Harris, OSU, pada tanggal 11 Februari 1856, dalam usia yang masih muda, yaitu 27 tahun.



Pada tahun 1857 Kapel Biara Noordwijk 29 diberkati oleh Mgr. Vrancken dengan doa khusus untuk memohon Berkat dan Perlindungan Bunda Maria. Maka sejak Tanggal 7 Februari 1856, di Noordwijk 29 atau sekarang Jl.Ir.H.Juanda 29 menjadi awal berkaryanya Suster Ursulin di Indonesia, yang kemudian sekarang berkembang luas di seluruh Indonesia.